Selasa, 19 November 2013
In:
Puisi Pagi
Hujan
Terbangun aku di sudut malam
di ujung senja mulai menghilang
Ku dengar suara itu
gemuruh menghantam
genteng genteng rumahku
sayup sayup malam berlalu
dengkuran terasa makin deras
menghujam jatuh kian kasar
memenuhi serpihan kering yang kini kian membasah.
Hujan,, kau datang lagi
menyambutku di pagi ini
bersama dinginnya kesejukan
bersama gemuruhnya percikanmu yang jatuh menerjang debu debu kecilpun menghilang dimakan zaman saat kau hadir menelan kesunyian.
Kulihat tanah sekitar
yang semalam kering
kini telah nampak olehku
engkau mengalir mengikuti
alur alur rendah dan berjalan
di sela sela jalan yang datar
dan kau bermalam di tepian tanah berlobang.
Daun daun kecilpun tak terlewatkan olehmu..
Mereka semua membasah
kau siram bersama angin yang berlalu hilir mudik menerpa butiran salju.
Sudah beberapa jam berlalu,,
gemuruhmu masih nampak
menitipkan kegersangan bunyi
kapan butiran dingin ini berhenti berkata,, entah sampai kapan..
Aku masih terpaku dalam kehampaan ruang kamarku
sesaat membuka jendela
menatap langit membisu
sepertinya mentaripun malu
malu membentangkan
pancaran sinarnya
yang kini tertutup awan samudra.
Kembali kubaringkan tubuh ini
di atas serpihan kasur,,
menarik selimut dan mulai
memejamkan mata..
*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*++
di ujung senja mulai menghilang
Ku dengar suara itu
gemuruh menghantam
genteng genteng rumahku
sayup sayup malam berlalu
dengkuran terasa makin deras
menghujam jatuh kian kasar
memenuhi serpihan kering yang kini kian membasah.
Hujan,, kau datang lagi
menyambutku di pagi ini
bersama dinginnya kesejukan
bersama gemuruhnya percikanmu yang jatuh menerjang debu debu kecilpun menghilang dimakan zaman saat kau hadir menelan kesunyian.
Kulihat tanah sekitar
yang semalam kering
kini telah nampak olehku
engkau mengalir mengikuti
alur alur rendah dan berjalan
di sela sela jalan yang datar
dan kau bermalam di tepian tanah berlobang.
Daun daun kecilpun tak terlewatkan olehmu..
Mereka semua membasah
kau siram bersama angin yang berlalu hilir mudik menerpa butiran salju.
Sudah beberapa jam berlalu,,
gemuruhmu masih nampak
menitipkan kegersangan bunyi
kapan butiran dingin ini berhenti berkata,, entah sampai kapan..
Aku masih terpaku dalam kehampaan ruang kamarku
sesaat membuka jendela
menatap langit membisu
sepertinya mentaripun malu
malu membentangkan
pancaran sinarnya
yang kini tertutup awan samudra.
Kembali kubaringkan tubuh ini
di atas serpihan kasur,,
menarik selimut dan mulai
memejamkan mata..
*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*+*++
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

1 komentar:
aku suka tulisanmu :)
Posting Komentar