Minggu, 03 November 2013
In:
Kata-kata bijak
,
Lukisan kata
Sebelum Engkau Terlahir Kedunia
Ingatkah engkau
Saat itu kau masih
dalam kandungan ibumu
Kemana ibu pergi
kesitu lah kamu dibawa
Kemana ibu melangkah
ke situlah kamu di ajaknya
Kini kandungan ibumu
semakin besar
Mulai terasa olehnya
tendangan-tendangan
Halus kakimu
Kadang Keras dan kadang
lembut
Ia usap perutnya
dengan cinta
Terkadang sakit ia
menjerit
terkadang
tertatih-tatih ia berjalan
namun karna kasih
sayangnya
yang begitu dalam
senyum tak pernah
memudar
dari wajah lemasnya
semakin dekat kau
keluar
semakin berat
semakin sakit pula
ia mengandungmu
kini ia sudah tak
bisa untuk berlari
tak bisa untuk
melangkah lebih jauh
jalan kakipun tak
bisa laju
lambat dan terus
melambat
perlahan demi
perlahan
ia melangkah
semua karnamu
semua untukmu
semua untuk
kesehatanmu
Do’a tiada henti Ia
panjatkan
Jarang sekali ia
Mendo’akan untuk
Kesehatan dirinya
sendiri
Do’anya selalu
Untukmu dan untukmu
Padalah,,
Tahu kah engkau
Terkadang ia sakit
Terkadang ia Letih
Dan terkadang payah
Tapi tidak kah kau
dengar do’anya
Tidak kah engkau rasa
Usapan tangannya
Merasakan gerak
gerikmu
Do’anya hanya untukmu
Selalu untukmu
Berharap kau lahir
sempurna
Menjadi anak yang
sholeh / sholehah
Berbakti kepada orang
tua
Berguna bagi insan
lainnya
Itulah harapan besar
mereka
Detik-detik waktu sudah
Di ambang pintu
Sakit itu sudah
semakin menjadi-jadi
Engkau sudah mulai
Bernjak ingin keluar
menatap dunia nan
fana
penuh fitnah dan
cobaan.
Tanda-tanda itu
semakin datang
Nenekmu pun segera
Memanggil bidan
Dengan rasa haru
Nenek berjalan
Bersama debar jantung
yang kian mengencang
Ia berlari,,,
Hujan , dinginnya
malam
Segala rintangan
Tak ia hiraukan
Demi cucunya yang
tersayang.
Kini ibumu sudah
terbaring lemas
Keringat kian
membasah
Di atas hamparan
kasur yang kusut
Ayammu tak
henti-hentinya
Memanjatkan do’a
Menemani istri
tercinta
Di antara dua masa
Hidup Dan Mati
Ayahmu
Berharap semua kan
baik-baik saja.
Proses kelahiranpun
dimulai
Dengan do’a dan
perjuangan
Ibumu
Tarikan napas kian
menggebu
Nafas pertama, kedua
, ketiga
Peluh bercucuran
Di sekujur tubuhnya
Sedangkan Bidang
terus memberi
Sugesti
Sakitt
Sungguh
Sakiitt
Sakiitt sekali
namun ibumu tetap
tegar
ia tahan segalanya
Namun ayah,,,,
Ayahmu tak kuasa menahan pedihnya suasana
Tiba-tiba wajah
keringnya buram
Binar matanya mulai berkaca-kaca
Dan kini,,
Kini,,,,,,,
Air mata itu
meleleh,,
Bersama do’a yang
terus
ia panjatkan..
Ya Allah
Selamatkan Istri dan
Anakku Ya Rabb
Segela wirid ia baca
Sedang air mata terus
membasahi
Wajahnya
Setiap kali ibumu
menjerit
Hati ayahpun bergetar
Seolah sakit itu ia
rasakan pula.
Bersama linangan air
mata tanpa jeda.
Air mata bercucuran
kian
Membasahi wajahnya
Meleleh di sela-sela
hidung
Dan jatuh ke bawah,,
Tak terhitung berapa
jam
Berlalu
Hingga kini
Tangisanmu sudah
terdengar,,
Perjuangan ibumu untuk
Melahirkan mu sudah
selesai
Sakit yang ia rasa
tak terhiraukan lagi
Rasa bahagia mulai
terpancar dari
Wajahnya
Denga mata yang
berlinang
Dengan wajah wajah
yang basah
Ayahmu mengangkat
bayinya
Dan mendekatkan pada
ibumu
Seraya berkata
Sayang,, ini anak
kita,, ^_^
Ia mirip sekali
denganmu,,
Lalu ibumu menciummu
Ia tak berkata
apa-apa,,
Haru membasahi
suasana
Hanya senyum
Senyum kasih sayang
Yang terbentang luas
dari bibirnya
Seraya mengucap
syukur tiada tara
Kepada Allah yang
Maha Esa..
Seindah pelangi
Hadirmu memberi warna
berbeda
Dalam hidup mereka..
Namun perjuangan
belum berakhir,,
Hingga kau dewasa..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar